MUKJIZAT-MUKJIZAT NABAWIAH
Malam 27 Romadhon 2010
Pengingkaran tersebut, yang diceritakan olch Saudara penanya
dari salah seorang di majelisnya, sebagian benar dan
sebagian lagi salah. Tidaklah semua mukjizat Rasulullah saw.
yang nyata dan tersiar di antara orang-orang merupakan
riwayat yang shahih dan benar, dan tidak juga semuanya
salah.
Keshahihan dan kesalahan dalam masalah-masalah ini tidaklah
semata-mata disebabkan oleh pendapat atau hawa nafsu dan
emosi, tetapi ditentukan oleh sanad-sanad.
Orang-orang dalam masalah ini -masalah mukjizat Nabi
Muhammad saw. yang bersifat material- ada tiga macam:
Pertama: Orang yang berlebihan dalam membenarkan dan
menjadikan sanad dan dalil adalah sesuatu yang tercantum
dalam kitab-kitab, apakah itu merupakan kitab ulama periode
terdahulu maupun belakangan, yang menyaring riwayat-riwayat
atau tidak, yang bersesuaian dengan pokok-pokoknya atau
bahkan menyalahinya, dan apakah kitab-kitab itu diterima
oleh para ulama peneliti atau tidak.
Yang penting hal itu diriwayatkan dalam sebuah kitab,
meskipun tidak diketahui pengarangnya, atau disebutkan dalam
sebuah kasidah yang berisi pujian terhadap Nabi saw, atau
dalam kisah Maulid yang sebagiannya dibaca di bulan Rabiul
Awxval setiap tahun dan sebagainya.
Ini pemikiran awam yang tidak perlu dibicarakan. Kitab-kitab
itu berisi riwayat yang baik dan buruk, benar dan salah,
shahih? dan palsu (dibuat-buat).
Peradaban agama kita telah tercemar oleh para pengarang
semacam ini, yang menerima “kisah-kisah khayalan” dan
mengisi lembaran kitab-kitab mereka, meskipun menyalahi
riwayat yang shahih dan akal sehat.
Sebagian pengarang tidak memperhatikan kebenaran riwayat
dari kisah-kisah ini dengan alasan tidak ada hubungannya
dcngan penetapan hukum syariat, baik mengenai halal atau
haram dan sebagainya. Oleh karena itu, apabila meriwayatkan
mengenai halal dan haram, mereka bersikap keras dalam
menyelidiki sanad-sanad, mengkritik para rawi dan menyaring
riwayat-riwayatnya.
Namun, apabila meriwayatkan tentang amalan-amalan utama,
At-Targhib wat-Tarhib, misalnya mukjizat dan sebagainya,
mereka pun menyepelekan dan bersikap toleran.
Ada pula pengarang yang menyebut riwayat-riwayat dengan
sanad-sanadnya – Fulan dari Fulan dari Fulan – tetapi mereka
tidak memperhatikan nilai sanad-sanad ini. Apakah shahih
atau tidak? Nilai para rawinya, apakah mereka tsiqat (dapat
dipercaya), dapat diterima, lemah tercela, atau pendusta
tertolak? Mereka beralasan bahwa apabila mereka menyebut
sanadnya, maka mereka telah bebas dari tanggung jawab dan
terlepas dari ikatan.
Hal itu hanya cocok dan cukup bagi para ulama di zaman-zaman
permulaan. Adapun di zaman-zaman belakangan, khususnya di
masa kita seperti sekarang ini, maka penyebutan sanad
tidaklah berarti apa-apa. Orang-orang hanya mengandalkan
penukilan dari kitab-kitab tanpa memandang sanad.
Ini adalah sikap mayoritas penulis dan pengarang di zaman
kita ketika mereka mengutip dari Tarikh Thabari atau
Thabaqat Ibnu Sa’ad dan lain-lain.
Kedua: Orang yang berlebihan dalam menolak dan mengingkari
mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda alamiah yang nyata.
Alasannya dalam hal itu ialah, bahwa mukjizat Nabi Muhammad
saw. adalah Al-Qur’anul Karim.
Didalamnya terdapat tantangan agar orang-orang mendatangkan
(membuat) Al-Qur’an seperti itu, sepuluh surat atau cukup
satu surat saja yang seperti itu.
Tatkala kaum musyrikin minta dari Rasulullah saw. agar
mengeluarkan tanda-tanda alamiah supaya mereka
mempercayainya, maka turunlah ayat Al-Qur’an yang menyatakan
penolakan tegas terhadap permintaan mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka berkata, ‘Kami sekali-kali tidak percaya
kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk
kami’.”(Q.s. Al-Isra’:90).
“Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu
kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras
alirannya. ” (Q.s. Al-Isra’:91).
“Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami,
sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan
malaikat-malaikat bertatap muka dengan kami.” (Q.s.
Al-Isra’:92).
“Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas atau kamu naik
ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai
kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab
yang kami baca. Katakanlah, ‘Maha Suci Tuhanku, bukankah aku
ini hanya seorang manusia yang menjadi Rasul’.” (Q.s.
Al-Isra’: 93).
Di tempat lain, Allah menyebut hal-hal yang mencegah
turunnya tanda-tanda alamiah yang mereka usulkan. Firman
Allah swt.:
“Dan sekali-kali tidak ada yang menghalang-halangi Kami
untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami),
melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh
orang-orang yang dahulu. Dan telah Kami berikan kepada
Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat
dilihat, tetapi mereka menganiaya unta betina itu. Dan Kami
tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk
menakut-nakuti.” (Q.s. Al-Isra’: 59).
Dalam surat lain Allah menolak permintaan turunnya
tanda-tanda yang lain dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an
sendiri sudah cukup untuk menjadi tanda bagi Muhammad saw.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah
menurunkan kepadamu Alkitab (Al-Qur’an), sedang dia
dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu
terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang
yang beriman.” (Q.s. Al-Ankabut: 51).
Hikmah Ilahiah telah menghendaki mukjizat Muhammad saw.
merupakan mukjizat akliah dan moral, bukan mukjizat kongkrit
dan material. Hal itu dimaksudkan supaya lebih layak dengan
kemanusiaan setelah melewati tahap-tahap masa kanak-kanaknya
dan lebih layak dengan tabiat risalah penutup yang kekal
Mukjizat-mukjizat nyata berakhir begitu ia terjadi. Adapun
mukjizat akliah, ia akan tetap kekal.
Hal itu dikuatkan oleh hadis dalam Shahih Bukhari dari Nabi
saw, beliau bersabda:
“Tidak ada seorang Nabi diantara Nabi-nabi yang diutus,
melainkan ia diberi tanda-tanda (mukjizat) dan kepadanya
manusia beriman, tetapi apa yang diberikan kepadaku adalah
wahyu yang diturunkan Allah kepadaku. Maka, aku berharap
menjadi Nabi yang terbanyak pengikutnya diantara mereka pada
hari Kiamat.” (H.r. Bukhari).
KEAJAIBAN SEDEKAH
Malam 27 Romadhon 2010, Ahad
Jik kita membuka Ensiklopedia Mukjizat Alquran & Hadis saya menemukan sebuah kisah dari penggalan ayat Al-Qur’an, surat Al-Kahfi 18 : 32. Petikannya seperti ini :
“Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.”
Ada banyak keterangan yang menjelaskan identitas dua orang laki-laki tersebut tapi menurut Muhammad bin Al-Hasan Al-Muqri’, dua orang laki-laki tersebut bernama Tamlikha & Qurthus.
Semula kedua orang itu bekerja sama, lalu mereka membagi rata kekayaannya masing-masing 3.000 dinar. Seorang yang beriman (Tamlikha) membelanjakan 1.000 dinar untuk membebaskan seorang budak. 1.000 dinar yang kedua dibelanjakan baju untuk dibagikan kepada kaum dhuafa & 1.000 dinar sisanya dibelanjakan makanan dan dibagikan kepada orang-orang yang kelaparan.
Kisahnya kita lanjutkan…bagaimana dengan kisah Qurthus (hamba Allah yang tidak beriman)?
Qurthus memanfaatkan aset yang ia miliki dengan menikahi seorang perempuan kaya & membeli hewan ternak dan sapi. Ia kemudian mengembangbiakkan ternaknya hingga terus bertambah. Hingga akhirnya Qurthus menjadi orang yang paling kaya.
Tapi yang membuat saya terharu ketika membaca kisah yang sama versi Atha’ :
Dua orang ini mulanya bekerjasama. Mereka berdua memiliki kekayaan masing-masing 8.000 dinar (sekitar Rp.10 Milyar!). Salah seorang membeli sebidang tanah seharga 1.000 dinar, sementara yang lain berkata,” Ya Allah, saudaraku telah membeli sebidang tanah seharga 1.000 dinar. Aku akan membeli dari-Mu sebidang tanah surga dengan cara bersedekah sebesar 1.000 dinar.”
Orang yang pertama tadi membeli tanah lalu membangun rumah yang menghabiskan 1.000 dinar, sementara yang lain berkata,”Ya Allah, saudaraku telah membangun rumah dengan dana sebanyak 1.000 dinar. Aku akan membeli dari-Mu rumah di surga dengan cara menyedekahkan uang 1.000 dinar.”
Setelah melihat temannya menikah, saudaranya yang rajin bersedekah itu berkata,”Ya Allah, saudaraku telah menikahi seorang perempuan dengan mahar 1.000 dinar. Aku meminang dari-Mu seorang bidadari surga dengan cara bersedekah sebesar 1.000 dinar. Saudaraku membeli gelang & perhiasan lainnya seharga 1.000 dinar. Aku akan membeli gelang & perhiasan dari surga dengan cara bersedekah seharga 1.000 dinar.”
Pada satu kisah, Tamlikha sedang diuji Allah SWT dengan kesulitan finansial. Dia berpikir akan meminta bantuan kepada temannya, Qurthus, agar bisa dipekerjakan di kebun miliknya. Mudah-mudahan ia mau membantuku, batin Tamlikha.
Ketika dua orang sahabat ini bertemu, Tamlikha menyampaikan niatnya. Lalu Qurthus bertanya,
“Bukankah aku telah memberikan setengahnya? Lalu apa yang kamu perbuat atas hartamu?” Tamlikha pun menjawab,”Aku membelanjakan hartaku untuk sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal bagi Allah.”
Singkat cerita Qurthus mengusir Tamlikha. Sesuai dengan yang diberitakan dalam Al-Kahfi ayat 82 orang kaya ini melindungi kebunnya tetapi Allah SWT melenyapkannya dengan mengirim musibah dari langit.
Kisahnya cukup panjang, anda bisa baca lanjutan kisahnya di Ensiklopedia Mukjizat Alquran & Hadis no.6 “Kemukjizatan tumbuhan & buah-buahan”.
Mari kita sama-sama simak Surat Al-Baqarah ayat 281 :
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).
Di ayat yang lain Allah SWT akan mencabut perasaan takut & khawatir bagi orang-orang yang gemar bersedekah.
ESENSI PUASA
Malam 27 Romadhon 2010, Malam Senin
ESENSI PUASA RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN
Disarikan dari Ceramah Ahad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H.M. Quraish Shihah, M.A. pada tanggal 7 September 2008 di Masjid Agung Sunda Kelapa – Jakarta
Transkriptor: Hanafi Mohan
Di dalam Alquran, ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa.
Pertama, “shiyam“; kutiba alaykumush shiyam.
Kedua, “shaum“; inni nazartu lirrahmanish shauma.
Shaum dan shiyam berasal dari akar kata yang sama, yaitu: menahan diri.
Sewaktu Maryam (Ibu Nabi Isa) melahirkan, orang-orang menuduhnya yang bukan-bukan. Lalu Maryam pun mengatakan:
“Inni nazartu lirrahmanish shauman fala tukallimay yauma insiya.”
Aku bernazar puasa (menahan diri), karena aku menahan diri, maka aku menahan diri tidak mau berbicara kepada seorang manusia pun.
Tidak mudah seseorang menahan diri untuk membela dirinya ketika dituduh macam-macam. Inilah puasa yang dimaksudkan oleh Alquran, yaitu dengan kata “shaum”.
Yang diwajibkan kepada kita bukanlah “shaum”, melainkan “shiyam”. “Shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Jadi, “shaum” adalah menahan diri, sedangkan “shiyam” adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.
Persamaan “shaum” dan “shiyam”, bahwa kedua-duanya adalah menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka dinamakan bahwa orang tersebut tidak “shaum” dan tidak melakukan “shiyam”.
Ada orang yang berpuasa (tidak makan tidak minum) hanya bertujuan untuk menguruskan badan. Dalam puasa yang kita lakukan, bukan hal-hal seperti ini yang akan kita capai.
Ada orang yang berpuasa (dalam arti tidak makan saja). Ini juga “shaum”, tapi bukan “shiyam”.
Ada orang yang berpuasa dengan tujuan untuk berbela sungkawa.
Para ulama mengatakan, bahwa sebenarnya dalam konteks “shiyam”, ada penampakan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya yang tidak bisa makan. Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menampakkan bela sungkawa kepada orang-orang yang tidak berpunya, tapi ini bukanlah esensi dari puasa yang dilakukan tersebut.
Esensi shiyam
Mengapa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa? Memang, pada ayat yang memerintahkan puasa disebutkan: “la allakum tattaqun” (agar kamu bertakwa). Sehingga dapatlah dikatakan, bahwa tujuan puasa itu adalah agar kita bertakwa. Tetapi itu di ujung sana. Ada jalan yang harus ditempuh oleh yang berpuasa agar bisa sampai ke sana.
Kata takwa mencakup segala macam kebajikan. Ilmu itu takwa, sabar itu takwa (bagian dari takwa). Ada yang mengatakan, bahwa puasa yang kita lakukan adalah untuk menenun pakaian takwa. Lebaran nanti, barulah pakaian takwa tersebut kita kenakan. “Wa libasut taqwa zalika khair”.
Sebutlah apa saja dari kebaikan, maka itu termasuk ke dalam “takwa”. Jadi, kalau kita mengatakan “takwa”, maka segala macam kebaikan ada di dalamnya. Takwa adalah istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menggambarkan “dima ul khair” (himpunan dari segala macam kebaikan).
Jika Alquran mengatakan, bahwa ”diwajibkan kepada kamu berpuasa supaya kamu bertakwa,” maksudnya adalah supaya terhimpun dalam dirimu segala macam kebajikan. Jadi jelaslah, bahwa puasa bukanlah cuma menahan diri (sabar) untuk tidak makan dan tidak minum.
Ada hadits Rasulullah yang cukup terkenal, hadits ini merupakan sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah, yang firman Allah tersebut tidak termaktub di dalam Alquran, tetapi disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menyusun kata-katanya. Kalau Alquran merupakan firman Allah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril yang redaksinya langsung dari Allah. Kalau ini, ada yang dikatakan oleh Rasullah, ada yang dikatakan oleh Jibril.
Rasulullah bersabda, Allah berfirman:
“Ash-shaumuli wa ana azzibi.”
Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan memberi ganjaran-Nya.
Jadi untuk ibadah puasa, malaikat hanya mencatat, tanpa melakukan kalkulasi berapa ganjaran yang didapatkan. Bandingkan dengan membaca Alquran, kalau kita membacanya terbata-bata, maka setiap huruf 10 pahalanya. Kalau kita membacanya lancar, maka 20 pahalanya. Kalau kita mengerti artinya, maka 70 pahalanya.
Ada ulama yang mengatakan, bahwa sebenarnya lebih baik membaca Alquran itu satu juz saja tetapi kita mengerti artinya, daripada membaca 30 juz tetapi tidak mengerti artinya.
Allah mengatakan, bahwa puasa itu untuk-Nya, Dia lah yang akan memberinya pahala.
Ada orang yang berpuasa cuma menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada juga yang berpuasa menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, dan menahan diri untuk tidak memaki orang lain. Ada juga yang berpuasa tidak makan, minum, hubungan suami istri, tidak memaki orang lain, dan dia belajar, membersihkan hatinya, serta tidak dengki.
Jadi, yang tahu hati itu hanyalah Allah. Karena itulah, tidak bisa lantas digeneralisir. “Akulah yang akan memberi pahalanya,” kata Allah.
Para ulama memahami sabda Rasulullah yang merupakan firman Allah ini dengan mengatakan: “Karena puasa itu adalah rahasia antara yang berpuasa dengan Allah, maka itu sebabnya Allah berfirman: puasa untuk-Ku.”
Ada juga yang mengatakan, bahwa esensi (tujuan akhir) dari puasa adalah takwa. Dia untuk Allah, yang kemudian ditafsirkan, bahwa untuk Allah yang dimaksud itu adalah rahasia.
Pendapat yang lebih baik mengatakan, untuk Allah maksudnya adalah untuk meneladani Allah. Orang yang berpuasa itu, dengan puasanya, dia meneladani Allah sesuai dengan kemampuannya sebagai makhluk.
Kebutuhan apa yang paling mutlak harus kita miliki?
Ada kebutuhan yang sangat mutlak kita miliki, yang kita tidak bisa sama sekali jika tidak memperolehnya. Hal ini adalah udara. Allah mengatakan, bahwa ini adalah di luar kemampuan manusia.
Allah tidak membutuhkan apa-apa, termasuk tidak membutuhkan udara. Sesudah udara, yang kita butuhkan adalah makan dan minum. Apakah Allah makan dan minum? Ternyata Allah tidak makan dan minum. Karena itulah, teladanilah Allah, yaitu jangan makan dan minum.
Tetapi, kita tidak bisa mencontohi Allah dalam sifat-sifat-Nya ini. Contohilah sesuai dengan kemampuan kita. Karena itulah, Allah kemudian mengatur, bahwa menurut penilaian Allah, yang mampu dilakukan oleh manusia adalah dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Ini adalah normal
Seandainya ada seorang manusia yang tidak bisa melakukannya, di Alquran disebutkan:
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. [Q.S. Al-Baqarah: 184]
Orang yang bisa puasa tetapi sangat berat untuk berpuasa, maka orang tersebut janganlah berpuasa. Orang yang seperti ini, berarti ia tidak mampu memenuhinya, Karena itulah, orang seperti ini membayar “fidyah” saja.
Allah itu tidak makan, dan Allah memberi makan. Karena itulah, jika berpuasa, contohilah Allah, berilah makan kepada orang lain, berilah makan berbuka puasa kepada orang lain, sesuai dengan kemampuan kita.
Ternyata bukan hanya ini.
Allah “ar-rahman”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahman” kepada orang lain? Allah “ar-rahim”, apakah kita bisa bersikap “ar-rahim” kepada orang lain?
“Rahman” adalah memberi rahmat kepada seluruh makhluk, baik itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk Tuhan, termasuk juga merahmati orang-orang kafir.
“Rahim”, yaitu memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman.
“Malik”, yaitu raja (penguasa). Kita bukan raja, bukan penguasa, tetapi apakah kita tidak bisa menjadi raja, apakah kita tidak bisa menjadi penguasa? Bisa. Kita menjadi raja terhadap diri kita. Kita mempunyai tentara, anggota tubuh kita ini adalah tentara kita. Kita mempunyai alat yang bisa digunakan untuk meraih keinginan dan nafsu kita. Jadi rajalah terhadap diri kita.
Jadi, raja adalah orang yang bisa menguasai dirinya.
“Quddus” artinya suci. Suci adalah gabungan dari tiga hal: benar, baik, dan indah. Kalau cuma benar, tapi tidak baik, maka itu bukanlah suci. Misalkan, jika ada satu orang melakukan kesalahan, maka orang tersebut perlu dibenarkan. Jika orang tersebut kita tegur di depan umum, maka apa yang kita lakukan itu benar, tetapi tidak baik. Jika kita tegur dia sendirian (tidak di depan orang banyak), tetapi cara kita menegurnya tidak indah, karena dengan cara memaki-maki dan kasar.
Allah itu “quddus”, suci, semua yang datang dari-Nya itu benar, baik, dan indah.
Yang mencari kebenaran itu menghasilkan ilmu. Yang mencari kebaikan itu menghasilkan akhlak. Yang mencari keindahan itu menghasilkan seni. Karena itulah, bagi orang yang berpuasa jika meneladani al-quddus, maka bisa menjadi ilmuwan, budiman, dan seniman.
“‘Alim”, artinya maha mengetahui. Karena itulah, jadikanlah waktu puasa ini untuk belajar. Salah satu buktinya, Alquran itu turun pertama kali pada Bulan Ramadhan dengan ayatnya “iqra’” (bacalah/belajarlah).
Membaca Alquran pada Bulan Ramadhan memang merupakan suatu amal ibadah yang baik, tapi jangan hanya sekedar dibaca, melainkan dipelajari. Dan bukan cuma Alquran, kita juga bisa mempelajari yang lainnya. Dan kita juga tidak harus dari pagi hingga sore hanya membaca Alquran. Ternyata ada hal-hal lain yang juga harus dan bisa kita pelajari. Bagi ibu-ibu, mungkin bisa belajar masak, merias, merangkai bunga, dan membuat kerajinan tangan. Semua itu ilmu. Jangan membatasi kebaikan hanya pada persoalan-persoalan yang kita anggap itu persoalan agama murni. Bacalah koran dan majalah yang baik. Nonton televisi yang acaranya baik-baik.
“Ghaniy”, artinya kaya. Kaya adalah tidak butuh kepada sesuatu. Allah dinamakan “ghaniy“, karena Allah tidak membutuhkan sesuatu.
“Tahsabuhum aghniyaa-a minat ta’affuf. ”
Orang yang tidak mau meminta-minta, bukan berarti dia tidak butuh. Dia sebenarnya butuh, tetapi karena harga dirinya begitu tinggi, sehingga dia tidak mau meminta-minta.
Semakin sedikit kebutuhan kita, maka semakin kayalah kita. Karena itulah, orang yang mempunyai kelebihan, maka ia harus mencari siapa yang tidak memiliki kelebihan. Karena boleh jadi, yang tidak butuh ini malu untuk meminta.
Selain “ghaniy”, ada juga “mughniy”. “Mughniy” artinya memberi kekayaan. Allah itu kaya, juga memberi kekayaan. Karena itulah, kita patut meneladani Allah yang kaya dan juga memberi kekayaan.
Kekayaan itu seperti lingkaran (360 derajat). Kalau kecil lingkarannya, maka besarnya adalah 360 derajat. Kalau lingkarannya besar, maka besarnya 360 derajat juga. Kalau besar, tapi tidak sampai lingkarannya, maka bukanlah 360 derajat.
Banyak orang yang lingkarannya sudah begitu besar, tetapi lingkaran tersebut tidak sampai 360 derajat, maka ini bukanlah orang kaya. Sebaliknya, ada juga orang yang penghasilannya kecil, tetapi ia puas dengan usaha maksimalnya, maka inilah orang kaya.
Ambillah semua sifat-sifat Allah ini, pelajari esensinya. Bagus sekali jika kita membaca Asmaul Husna, tetapi tujuannya jangan hanya sekedar membaca, tetapi memahami dan meneladani sifat-sifat Allah tersebut.
Di beberapa negara Timur Tengah, yang ditonjolkan adalah sifat “karim“, yang artinya baik. Misalkan surat. Bagaimanakah surat yang baik? Yaitu surat yang isinya baik, kata-katanya baik, sampulnya baik, dan alamatnya pun baik dan benar.
Di sini, yang jadi “karim” itu adalah semua yang baik apa yang ia sifati. Allah itu “karim”. Tentunya kita tidak bisa membayangkan, bahwa Allah itu memberi sebelum kita meminta. Allah itu kecewa jika kita tidak meminta. Apakah ada di antara kita yang kecewa bila tidak dimintai sesuatu kepada kita?
Allah “karim”, maka teladanilah itu. Pada Asmaul Husna, itulah esensi ataupun jalan yang mengantar seseorang yang berpuasa sampai kepada takwa.
Rasulullah suatu ketika pada akhir Jum’at terakhir Sya’ban, beliau berkhutbah Jum’at.
“Wahai jama’ah, Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Ada empat hal yang hendaknya kamu raih di Bulan Ramadhan: dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepadamu, dan dua hal yang menjadikan Allah senang kepadamu, yaitu: pertama, syahadat “laa ilaa ha illallah”. Kedua, memohon ampun kepada-Nya.”
Sebagai Umat Islam, seringkali kita memahami petunjuk Rasulullah ataupun petunjuk Alquran itu hanya teks saja. Kita tidak masuk ke substansinya. Karena itulah, dalam tradisi para tetua, khususnya menjelang berbuka puasa, biasanya membaca doa, yang bunyinya:
“Asyhaduan laa ilaa ha illallah, astaghfirullah, nas alukal jannah, wa na’uzu bika minannaar.”
Ini sebenarnya adalah hadits Rasulullah.
Perbanyaklah bacaan seperti ini, tetapi bukan hanya sekedar bacaan (ucapan), melainkan hayatilah maknanya.
Tidak ada Tuhan selain Allah, berarti tidak ada penguasa di alam raya ini kecuali Allah. Seandainya berkumpul semua makhluk untuk memberi kita manfaat, maka takkan bisa manfaat itu menyentuh kita, kecuali seizin Allah. Tak ada yang bisa memberi pengaruh terhadap sesuatu, kecuali Dia (Allah).
Syahadat kita sering disentuh oleh debu, karena itu perlu dibersihkan dari debu-debu tersebut. Rasulullah bersabda:
“Jaddidu imaanakum sa’atan fa sa’ah.”
Perbaharui imanmu dari saat ke saat.
“Wa kaifa nujaddid?”
Bagaimana kami memperbaharui iman kami?
“Aksiru min qauli laa ilaa ha illallah.”
Perbanyak mengucapkan laa ilaa ha illallah.
Begitu banyaknya sikap kita yang kadang meluruhkan “laa ilaa ha illallah. ” Misalkan jika ada yang mempercayai bahwa angka 13 adalah angka sial, mempercayai ramalan bintang, dan yang semacamnya.
Suatu ketika di Hudaybiyah, setelah Shalat Shubuh, Rasulullah duduk-duduk, lalu beliau berkata:
“Hari ini ada yang percaya Tuhan tidak percaya bintang, ada yang percaya bintang tidak percaya Tuhan. Yaitu yang beranggapan bahwa bintang tertentu itu bisa memberikan keuntungan.”
Hal seperti ini ada di benak kita, dalan hidup keseharian kita.
Yang paling disenangi Allah di Bulan Ramadhan adalah syahadat “laa ilaa ha illallah”. Tujuannya adalah bertakwa kepada Allah.
Tidak ada orang yang tidak mempunyai dosa. Maka di sinilah tempatnya untuk bertaubat. Kalau kita melakukan itu, maka Allah senang kepada kita.
Apa yang merugikan kita jika kita tidak mendapatkannya di Bulan Ramadhan?
“Laa ghinaa ankum an huma, tas aluuna ul jannah, wa tasta-iluna-u minannaar.”
Di bulan inilah tempatnya kita meminta surga, dan di bulan ini pula tempatnya kita meminta dijauhkan dari neraka.
Ada sebuah hadits yang mengatakan, bahwa di Bulan Ramadhan ini, pintu surga dibuka, pintu neraka tertutup. Banyak penafsirannya, tetapi kita ambil yang mudah saja.
Kalau kita di rumah, ada tamu mau datang, maka pintu rumah kita buka sebelum dia datang ataukah setelah ia datang, baru pintu rumah kita buka? Jawabannya, sebelum tamu itu datang, pintu rumah sudah kita buka, supaya tamu tersebut tak perlu mengetuk pintu rumah kita dan menunggu di luar.
Tapi kalau orang jahat mau masuk penjara, apakah pintu penjara tersebut sudah dibuka atau belum?
Mengenai hal ini, terdapat pada Surah Az-Zumar ayat 71-74:
{71} Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.
{72} Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya”. Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.
{73} Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.
{74} Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.
Kalau penghuni surga dikatakan “wa futhihat“, kalau penghuni neraka tidak memakai “wa“. Mengapa yang pertama ada “wa“, sedangkan yang kedua tidak?
Pada ayat tersebut ingin digambarkan, bahwa penghuni surga itu kalau diantar masuk ke surga, dia dapati pintu surga sudah terbuka. Kalau penghuni neraka, nanti ketika sampai di sana, barulah pintunya dibuka. Setelah penghuni neraka itu masuk, pintunya ditutup lagi.
Di Bulan Ramadhan ini, pintu surga terbuka, sehingga kita tidak perlu mengetuk dan kita bisa langsung masuk. Jangan ketuk pintu neraka, karena itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang jahat.
Kalau waktu terbuka (pintu surga), lalu kita tidak masuk, maka rugilah kita. Kalau waktu tertutup (pintu neraka) kita ketuk, maka rugilah kita. Ini lagi obral, maka carilah banyak-banyak. Carilah amal yang baik, berbobot, harganya murah. Inilah waktunya.
Yang masuk surga, maka pasti terhindar dari neraka. Orang yang masuk neraka pasti terhindar dari surga. Karena di akhirat hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka.
“Man yuhyiha anin-naar wa uqtilal jannah faqad faaza.”
Siapa yang disingkirkan (walaupun sedikit) dari neraka, maka dia beruntung, karena dia masuk surga.
Pertanyaannya, mengapa Rasulullah mengajarkan kita untuk memohon surga dan berlindung dari neraka?
Ada yang mengatakan, bahwa doa itu diulang-ulang, karena merupakan suatu perbuatan yang baik. Dalam hal ini, berarti kita mendesak Allah. Allah itu tidak seperti manusia. Manusia jika didesak, maka akan marah. Sedangkan Allah, kalau tidak kita desak, maka Dia akan marah.
Janganlah ketika kita berdoa dengan mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau berkenan”, melainkan mintalah dengan cara merengek dan mendesak Allah, karena inilah yang Dia sukai. Ulang-ulangilah doa itu. Di sini, permintaan untuk dimasukkan ke surga itu sebenarnya diulangi, namun redaksinya saja yang diubah, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga, jauhkanlah aku dari neraka.”
Apakah ada yang masuk neraka dulu, setelah itu barulah masuk surga?
Rasulullah mengatakan, “Siapa yang akhir hidupnya ucapannya adalah laa ilaa ha illallah, maka dia akan masuk ke surga. Tetapi jika dia berdosa, maka dicuci dulu di neraka.”
Doa itu seakan-akan berkata, “Ya Allah, masukkanlah aku ke surga tanpa melalui neraka.” Konsekwensinya, berkenaan dengan konteks Ramadhan, maka janganlah lakukan perbuatan yang bisa mengantar kita ke neraka, karena Allah sudah menutup pintu neraka dan membuka pintu surga. Begitu kita jalan, maka ada persimpangan jalan: ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Jalan yang ke kiri kalau di luar Bulan Ramadhan maka pintunya terbuka, dan jalan yang ke kanan pintunya juga terbuka, sehingga kita bebas untuk memilih antara kedua jalan tersebut. Jalan yang ke kiri ada lampu merah sebagai tanda untuk kita tidak menuju ke jalan tersebut. Sudah ada penghalang seperti itu, tapi kita masih juga menuju ke jalan tersebut, mengapa kita tidak menuju kepada jalan yang kanan. Jika seperti ini, tentunya Allah akan begitu murka kepada kita.
Takwa itu bukan hanya shalat. Jika ada yang berhalangan (misalkan bagi perempuan) sehingga tidak bisa beribadah puasa, shalat, dan membaca Alquran, ternyata banyak amal baik yang bisa dilakukan yang mungkin lebih baik dari shalat dan puasa sunnah. Bagi seorang perempuan yang berhalangan, itu bukanlah keinginan kita, melainkan adalah kehendak Allah. Apakah ada amalan yang bisa dilakukan sebagai pengganti dari shalat, puasa, dan membaca Alquran? Ternyata banyak sekali penggantinya. Bacalah buku yang bermanfaat, membantu orang, senyum, sedekah, yang itu semua adalah bagian dari makna “takwa” yang merupakan arah yang dituju oleh puasa. Itulah esensinya.
Rasulullah bersabda:
“Qammin shaa-imin laysalahu min shiyamihi illal ju’u wal ‘athas.”
Banyak orang yang puasa, tetapi tidak mencapai esensinya, melainkan hanya lapar dan haus.
Dari segi hukum ia mungkin berpuasa, tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Allah. Maksud dari puasa adalah kendalikan diri, hiasi diri. Itulah esensi dari puasa.